
Kartasura, 21 Agustus 2026 – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta melaksanakan kegiatan peningkatan mutu kerja sama dengan stakeholder eksternal di Pondok Pesantren Darussalam Kartasura. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 08.30 WIB hingga 14.00 WIB tersebut mengangkat tema “Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence bagi Musyrif-Musyrifah Pondok Pesantren Mahasiswa Kartasura dalam Pengembangan Keterampilan Literasi Bahasa Arab.”

Kegiatan ini diikuti oleh mahasantri Pondok Pesantren Kartasura dengan tujuan memberikan wawasan dan pengalaman praktis dalam memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan keterampilan literasi Bahasa Arab.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan, dan pengantar dari tim pelaksana. Dalam pengantar disampaikan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan dalam cara belajar Bahasa Arab. Jika sebelumnya pembelajaran lebih banyak mengandalkan kamus dan bimbingan langsung, saat ini teknologi AI dapat membantu memberikan penjelasan, menerjemahkan teks, menganalisis struktur bahasa, serta mendukung penyusunan materi pembelajaran. Namun, pemanfaatan AI tetap harus dilakukan secara bijak tanpa menghilangkan peran pendidik dan pembimbing.
Materi pertama disampaikan oleh Muhammad Zaenuri, M.Pd. dengan fokus pada pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pembelajaran Bahasa Arab di lingkungan pesantren mahasiswa. Peserta diperkenalkan dengan berbagai teknologi AI, antara lain ChatGPT, Gemini, Claude, dan Perplexity, serta berbagai bentuk pemanfaatannya untuk mendukung proses pencarian, pemahaman, dan penyusunan materi.
Pemanfaatan AI kemudian diarahkan pada kebutuhan konkret pembelajaran Bahasa Arab, seperti membantu qirā’at al-kutub melalui pemberian harakat, analisis nahwu dan i‘rab, pembuatan prompt yang efektif, pengembangan bahan ajar berbasis teks kitab, serta penyusunan syarah kitab. Meskipun demikian, peserta ditekankan untuk tetap melakukan peninjauan dan validasi terhadap hasil yang diberikan AI.
Salah satu poin penting dalam pelatihan adalah pemahaman mengenai keterbatasan AI. Peserta diarahkan untuk tidak menerima hasil AI secara langsung karena teknologi tersebut dapat melakukan kesalahan dalam membaca teks, memberikan harakat, melakukan i‘rab, menerjemahkan istilah fikih, maupun memberikan syarah yang tidak sesuai dengan konteks kitab. Oleh karena itu, proses verifikasi tetap menjadi bagian penting dalam pemanfaatan AI untuk pembelajaran kitab.
Materi kedua disampaikan oleh Drs. Sukirman, M.Ag. melalui tema “Pengantar Materi Belajar Bahasa Arab di Era Artificial Intelligence.” Pada sesi ini, peserta diajak melihat perubahan pola belajar Bahasa Arab di era AI. Teknologi dapat membantu pembelajaran mufradat, nahwu, sharaf, qira’ah, percakapan, penulisan, hingga pengembangan bahan ajar, latihan, soal, ringkasan, dan syarah.
Dalam konteks pembelajaran di pondok pesantren, materi juga menekankan pentingnya posisi musyrif sebagai pendamping. Kehadiran AI tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pendampingan manusia. Musyrif tetap berperan sebagai pembimbing, pemeriksa, dan pengarah untuk memastikan hasil pemanfaatan AI benar dan bermanfaat bagi mahasantri. Kitab kuning tetap menjadi sumber utama ilmu, sedangkan AI ditempatkan sebagai alat bantu untuk memahami dan mempercepat proses belajar.
Sesi diskusi dan tanya jawab memberikan ruang kepada para peserta untuk menyampaikan pengalaman dan kendala dalam menggunakan teknologi AI. Pembahasan mencakup akurasi hasil AI, teknik memberikan instruksi yang tepat, penggunaan AI untuk memahami teks kitab, serta cara mengolah hasil AI menjadi materi pembelajaran yang lebih mudah dipahami.
Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan praktik dan pendampingan. Para peserta mencoba menggunakan AI secara langsung untuk membaca teks, memberikan harakat, melakukan analisis nahwu dan i‘rab, menerjemahkan teks, serta mengembangkan penjelasan sederhana atau syarah. Peserta juga diarahkan mengubah hasil AI menjadi bahan ajar yang lebih terstruktur dengan menambahkan teks asli, kosakata dan artinya, penjelasan, terjemahan Bahasa Indonesia, serta pertanyaan latihan.
Pada sesi refleksi dan evaluasi, peserta diajak memahami bahwa kompetensi yang diperlukan pada era AI bukan hanya kemampuan Bahasa Arab seperti nahwu, sharaf, mufradat, qira’ah, dan fahm, tetapi juga literasi AI, yang mencakup kemampuan membuat prompt, mengevaluasi, melakukan verifikasi, serta menggunakan teknologi secara etis.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penegasan bahwa Artificial Intelligence merupakan alat bantu dan bukan sumber belajar yang berdiri sendiri. AI dapat membantu mahasantri dalam mencari dan memahami informasi, tetapi keputusan ilmiah dan proses pembimbingan tetap membutuhkan peran manusia.
Secara keseluruhan, kegiatan memberikan pengalaman praktis kepada mahasantri dalam memanfaatkan AI untuk pengembangan literasi Bahasa Arab, mulai dari menyusun prompt, membantu qirā’at al-kutub, membuat syarah sederhana, hingga mengembangkan teks kitab menjadi bahan ajar. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk implementasi kerja sama Prodi Pendidikan Bahasa Arab dengan stakeholder eksternal dalam merespons perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran Bahasa Arab di lingkungan pesantren.


Prodi PBA UIN Raden Mas Said Surakarta Teken PKS dan IA dengan PPPBA Indonesia
3 pekan yang lalu - Umum